Dasar-dasar
Individual
Individu merupakan unit terkecil
pembentuk masyarakat. Dalam ilmu
sosial, individu berarti juga bagian terkecil
dari kelompok masyarakat yang tidak dapat di pisah lagi menjadi
bagian yang lebih kecil. Sebagai contoh, suatu keluarga terdiri
dari ayah, ibu, dan anak. Ayah merupakan individu dalam
kelompok sosial tersebut, yang sudah tidak dapat dibagi lagi ke dalam satuan
yang lebih kecil.
1.
Kemampuan
Kita semua tidak diciptakan setara.
banyak perbedaan antara satu individu dengan individu yang lain. sebagai
contoh, kemungkinan anda tidak dapat bermain sepak bola sebaik lionel messi ,
menulis sebaik J.K Rowling, atau bermain gitar sebaik Dewa Bujana. Hanya karena
setiap manusia memiliki kemampuan yang sama tidak berarti mereka dianggap lebih
rendah dari yang lain. Setiap individu memiliki kekuatan dan kelemahan
dalam kemampuan yang membuatnya relatif lebih unggul atau kurang unggul
di banding individu lain dalam melakukan tugas atau aktivitas tertentu. namun,
dari sudut pandang manajemen, isunya adalah bagaimana setiap individu bisa
memiliki kemampuan yang berbeda dan memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk
meningkatkan kemungkinan seseorang belakukan aktivitas yang lebih baik. Kemampuan
seorang individu pada dasarnya terdiri dari dua kelompok faktor, yaitu: faktor
intelektual dan faktor fisik:
- Kemampuan Intelektual adalah
kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas
mental-berfikir, menalar, dan memecahkan masalah. Individu dalam sebagian
besar masyarakat menempatkan kecedasan intelektual pada nilai yang tiggi.
tujuh dimensi yang paling sering disebutkan yang membentuk kemampuan
intelektual adalah kecerdasan angka, kecerdasan verbal, kecepatan
persepsi, penalaran induktif, penalaran deduktif, visualisasi spasial dan
daya ingat. Selama satu dekade terakhir, para peneliti telah mulai
memperluas arti kecerdasan melampauwi kemanpuan mental. sejumlah penelti
yakin bahwa kecerdasan dapat dipahami secara lebih baik dengan membaginya
ke dalam empat subbagian: kognitif, sosial, emosional, dan kultural.
- Kemampuan
Fisik adalah kemampuan
tugas-tugas yang menuntut stamina, keterampilan, kekuatan, dan
karakteristik serupa. Penelitian terhadap berbagai persyaratan yang
dibutuhkan dalam ratusan pekerjaan telah mengidentifikasi sembilan
kemampuan dasar yang tercakup dalam kinerja dari tugas-tugas fisik. Adapun
9 (sembilan) kemampuan fisik dasar tersebut sebagai berikut :
1. Faktor-faktor kekuatan yaitu :
a. Kekuatan
dinamis
Kemampuan untuk
menggunakan otot secara berulang-ulang/sinambungsepanjang suatu kurun waktu
b. Kekuatan
tubuh
Kemampuan
menggunakan kekuatan otot dengan menggunakan otot-otot tubuh (terutama perut)
c. Kekuatan
statis
Kemampuan
menggunakan kekuatan terhadap obyek luar
d. Kekuatan
Kemampuan
menghabiskan suatu maksimum energi eksplosif dalam satu/sederetan tindakan
eksplosif
2. Faktor-faktor keluwesan yaitu
:
a. Keluwesan
extent
Kemampuan
menggerakkan otot tubuh dan meregang punggung sejauh mungkin
b. Keluwesan
dinamis
Kemampuan
melakukan gerakan cepat
3. Faktor-faktor lain yaitu :
a. Koordinasi
tubuh
Kemampuan
mengkoordinasikan tindakan-tindakan serentak dari bagian-bagian tubuh yang
berlainan
b. Keseimbangan
Kemampuan
mempertahankan keseimbangan meski ada kekuatan yang mengganggu keseimbangan
c. Stamina
Kemampuan
melanjutkan upaya maksimal yang menuntut upaya yang diperpanjang sepanjang
suatu kurun waktu
Di dalam memahami perilaku individu, perlu
mengkaji berbagai karakteristik yang melekat pada individu tersebut. Adapun
berbagai karakteristik individu yang utama dapat dijelaskan sebagai berikut :
2.
Karakteristik Biografis
·
Usia
Bertambahnya usia memperkecil
kemungkinan berhenti dari pekerjaan. Penyebabnya adalah makin kecil pekerjaan
alternatif dan tingkat upah atau gaji yang sudah atau lebih tinggi.
Bertambahnya usia juga berpengaruh terhadap absensi. Hasil penelitian terdapat
tingkat absensi yang dapat dihindari. Selain juga terdapat tingkat absensi yang
tidak dapat dihindari, penyebabnya bisa kesehatan juga bisa karena cedera.
·
Jenis Kelamin
Telaah psikologis disebutkan
wanita lebih bersedia mematuhi otoritas sementara pria lebih agresif pada
pengharapan sukses. Selain itu tidak ada bukti penelitian yang menyatakan jenis
kelamin berpengaruh terhadap kepuasan kerja. Apabila jenis kelamin dihubungkan
dengan tingkat keluaran, hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita memiliki
tingkat keluaran yang tinggi dibandingkan dengan pria. Sementara terdapat
penelitian lain yaitu jenis kelamin dihubungkan dengan tingkat keluaran
menunjukkan hasi yangl sebaliknya. Sedangkan jenis kelamin dihubungkan dengan
absensi, bukti konsisten menunjukkan wanita lebih tinggi tingkat absensinya
apabila dibandingkan dengan pria.
·
Status Kawin
Hasil riset yang sangat
konsisten menunjukkan hasil bahwa untuk karyawan yang menikah maka dapat
dikatakan tingkat absensi dan keluaran organisasi mengalami penurunan sedangkan
kepuasan kerjanya cenderung meningkat. Penyebab hal ini disebabkan perkawinan
menyebabkan meningkatnya tanggung jawab seseorang. Hal ini pada gilirannya
membuat orang yang sudah berkeluarga melihat pekerjaannya lebih bernilai dan
penting, dan ikut menentukan bagaimana tingkat kepuasan kerja mereka. Bagaimana
dengan status janda atau duda ?
·
Banyaknya Tanggungan
Tidak ada informasi yang cukup
mengenai hubungan antara jumlah tanggungan seseorang dengan produktivitas
kerjanya. Akan tetapi sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa jumlah anak
yang dimiliki oleh pekerja berhubungan erat dengan tingkat absensi dan kepuasan
kerjanya.
·
Masa Kerja
Meskipun hubungan senioritas
dan produktivitas telah diselidiki secara luas, tidak ada indikasi bahwa
pekerja dengan masa kerja yang lebih lama lebih produktif dari pada mereka yang
baru bekerja. Akan tetapi diakui oleh para ahli bahwa masa kerja
sebelumnya menjadi peramal yang ampuh terhadap keluarnya karyawan (turnover) di
masa depan, artinya semakin lama seseorang bekerja di suatu instansi akan
semakin kecil kemungkinan dia untuk keluar dari tempat bekerja. Dapat dikatakan
masa kerja berhubungan negatif dengan turnover dan sekaligus merupakan
peramal terbaik bagi turnover. Dikatakan pula masa kerja
berhubungan secara positif dengan kepuasan kerja, dalam arti apabila seseorang
bekerja dalam waktu yang lama dalam suatu tempat maka dapat dikatakan orang
tersebut mengalami kepuasan kerja yang baik.
1.
Komponen
Utama Sikap
Sikap mempunyai tiga komponen utama: kesadaran, perasaan, dan perilaku.
Keyakinan bahwa
"Diskriminasi itu salah" merupakan sebuah pernyataan evaluatif. Opini semacam
ini adalah komponen kognitif dari sikap yang menentukan tingkatan
untuk bagian yang lebih penting dari sebuah sikap -komponen afektifnya. Perasaan adalah segmen emosional atau perasaan dari sebuah sikap dan tercermin dalam
pernyataan seperti "Saya tidak menyukai John karena ia mendiskriminasi
orang-orang minoritas. Akhirnya,
perasaan bisa menimbulkan hasil akhir dari perilaku.
Komponen perilaku dari sebuah sikap merujuk pada suatu maksud untuk berperilaku
dalam cara tertentu terhadap seseorang atau sesuatu.
2.
Perilaku Mengikuti Sikap
Pada akhir tahun 1960-an, hubungan
yang diterima tentang sikap dan perilaku ditentang oleh sebuah tinjauan
dari penelitian. Berdasarkan
evaluasi sejumlah penelitian yang menyelidiki hubungan sikap-perilaku, peninjau menyimpulkan bahwa
sikap tidak berhubungan dengan perilaku atau, paling banyak, hanya berhubungan
sedikit. Penelitian
terbaru menunjukkan bahwa sikap memprediksi perilaku masa depan secara signifikan dan
memperkuat keyakinan semula dari Festinger bahwa hubungan tersebut bisa
ditingkatkan dengan memperhitungkan variabel-variabel pengait.
3.
Sikap Kerja Utama
- Kepuasan kerja
Kepuasan
kerja adalah perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil
dari evaluasi karakteristik-karakteristiknya.
- Keterlibatan pekerjaan
Keterlibatan
pekerjaan adalah tingkat di mana seseorang memihak sebuah pekerjaan,
berpartisipasi secara aktif di dalamnya, dan menganggap kinerja penting sebagai
bentuk penghargaan diri.
- Komitmen organisasional
Komitmen organisasional adalah tingkat di mana seseorang memihak sebuah
organisasi serta tujuan-tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan
keanggotaan dalam organisasi itu. Tiga dimensi terpisah komitmen organisasional
adalah:
§ Komitmen
Afektif
§ Komitemn
Berkelanjutan
§ Komitmen
Normatif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar